Cerita Seks Dewasa Bergambar Terbaru ML Dengan Teman Kost Pacarku

Cerita Seks Dewasa Bergambar Terbaru ML Dengan Teman Kost Pacarku

Posted on 1,252 views

Cerita Seks Dewasa Bergambar Terbaru ML Dengan Teman Kost Pacarku. Ini adalah pengalamanku beberapa bulan lalu di tempat kost pacarku Rina. Aku sudah terbiasa keluar masuk di tempat kost itu baik itu bersama Rina atau sendirian. Kadang aku juga nginep kalau kemalaman. Kost ini memang nggak ada yang ngawasi, pemiliknya hanya datang sebulan sekali ambil duit.

Pada suatu hari aku datang ke kost Rina, sialnya di saat itu Rina sudah keburu pergi ke Bromo bersama teman-teman kuliahnya. Dalam hatiku aku mengumpati si Rina yang nggak lagi pamit kek atau ngasih tahu seperti biasanya. Mentang-mentang dia ada yang naksir lagi trus aku mulai nggak dianggap lagi.

Sore itu iseng-iseng aku nyalakan komputer di kamar Rina, ntar biar aku masukin virus makro-nya MS-Word lagi biar ilang semua ketikan dia. Tapi aku main DOOM dulu biar medongkolku agak berkurang.

Belum ada 15 menit aku main tiba-tiba pintu kamar yang nggak aku kunci terbuka. Evi dengan celana pantai dan kaos dagadunya sudah menerombol masuk ke kamar Rina. Waduh aku kena jadi sembur monster Doom deh.

“Hai mas,… sedang apa ?” si Evi teman sekostnya Rina datang, wah si Evi nih pasti minta tolong ngetik lagi.

“Minta tolong dong mas,…” pintanya sambil berganyut di daun pintu. Aku pura-pura nggak mau

“Aduh,.. aku bener-bener capek sekarang Vi,… kalau kamu sendiri mau pake komputer ini pake aja” Evi memonyongkan bibirnya,

aku tahu dia nggak lancar ngetik maklum nggak sering make komputer.

“Tolonglah mas,… aku nggak bisa ngetik lancar nih apalagi ini banyak rumusnya, bisa-bisa 2 lembar selesai 2 hari “. Memang sih kalo MSWord pake rumus mesti klak-klik terusan ngerjakannya.

 

“Kamu bawa ke rental saja deh, ntar disana ada kok yang mau ketikin”.

“Penuh,… besok sudah harus dikumpulin” jawabnya singkat.

“Duh mahasiswa, kebiasaan pake acara dadakan tuh,… Oke aku ketik tapi nanti kamu harus pijitin aku. Bagaimana ?” aku mengajukan penawaran.

“Nanti kalo ketahuan Rina ?” Evi memandang langit-langit dan aku memandangi pahanya.

“Enggak,… kan Rina lagi ke Bromo”

Singkatnya penawaranku diterima dan aku langsung ketik naskah punya Evi. Baru dua paragraf aku ketik, aku jadi teringat kalau aku juga pernah ketik naskah semacam ini untuk Rina. So jadi tinggal Copy dan Paste lalu Edit sedikit dan selesai.

“Di print sekalian nggak nih Vi ?” tanyaku pada Evi yang malah asik bolak-balik majalah punya Rina.

“Lho kok cepet sekali, nggak ada yang salah ketik apa ?” ia bangkit dan mendekat ke arah monitor memeriksa naskah itu.

Evi agak membungkuk membaca hasil ketikanku di monitor. Eh ada kesempatan baik, leher kaosnya jadi turun dan aku bisa melirik tetek milik Evi. Luar biasa, sekilas saja aku bisa pastikan tetek milik Evi masih kencang.

“Eh nakal ya,…” aduh ketahuan deh.

Evi segera bangkit dan menutup leher kaosnya. Aku nyengir-nyengir saja. Tapi dia nggak serius tuh marahnya, Evi malah senyum-senyum malu sambil memaksakan diri melotot.

“Ntar aku bilangin Rina lho, mas suka ngintip” ancamnya lagi.

“Ah bukannya kamu yang suka ngintip kalo aku pas tidur sama Rina”, aku balikan kata sambil menyalakan printer. Memang Evi pernah ketahuan ngintip pas aku sedang minta jatah biologis sama Rina.

“Nih ” empat lembar naskah itu sudah tercetak dan aku serahkan sama Evi.

“Trims ya mas,…. Jadi nggak pijit nya ?”

“Oh ya jadi dong,…”

Aku tiduran di ranjang dan Evi memijiti punggungku. Pintu aku tutup tapi nggak aku kunci. Aku melepaskan baju yang aku pakai, aku bilang takut kusut. Pijatan Evi terasa enak sekali malah seperti sudah prof. Dari leher sampai pinggang diurut dengan seksama.

“Vi,… kamu cerita sama Rudi (pacarnya Evi) nggak ?” tanyaku membuka kebisuan.

“Cerita apa ?”

“Tentang yang kamu intip itu”

“Ah ya enggak dong “

“Bener ?”

“Iya,..!!!”

20 menit aku dipijitin sama si Evi lalu dia mengeluh capek. Aku menawarakan diri untuk gantian pijit.

“Ah enggak ah, geli,…”.

“Tapi enak lho Vi percaya deh” mulanya dia nolak tapi akhirnya mau juga. Aku bangkit sambil aku geser dia untuk naik ke ranjang. Aku pijit mulai dari lehernya lalu turun ke punggung dan pinggang.

Aku perhatikan paha bagian belakang Evi mulusnya bukan main, putih lagi.

“Vi kamu pernah nggak main sama Rudi ?” aku beranikan diri untuk masuk ke dalam topik yang rada ngeres.

“Main apaan ?”

“Main kayak aku sama Rina”

“Ehm,… mulai aneh-aneh ya,…”

“Cuma nanya kok “

“Kalo pernah kenapa dan kalo belum pernah juga kenapa ?”

“Yah nggak apa-apa, cuma pingin tahu aja, kamu tahu aku sama Rina, aku juga kepingin tahu kamu dengan Rudi”

“Nggak ah,… nggak aku jawab”

“Ah berarti pernah nih”

“Lho kok bisa ambil kesimpulan?”

“Iya biasanya kalo belum pernah pasti jawabnya tegas belum”

“Terus, kalo aku sudah pernah main sex begitu sama Rudi kenapa juga”

“Yah,… barangkali,….” Aku sengaja nggak nerusin kata-kataku.

“Barangkali apa ?!”

“barangkali aku boleh coba”

“Ah nggak mau,….”

“Kenapa,…”

“Aku takut, punya mas besar sekali”

“Justru yang besar itu yang enak tahu “

“Ah masak ?” Evi memutar badannya dari yang tadinya telungkup jadi telentang.

Aku nggak buang waktu lagi, aku segera menindihnya. Evi gelagepan ketika aku serang teteknya yang membuat aku penasaran dari tadi. Aku ciumi lehernya sampai dia terengah-engah kehabisan nafas. Ketika aku dapatkan bibirnya tanganku mulai melepasi kaos dan celana pantai sekalian cd-nya. Aku tangkap gundukan daging di selangkangannya dan dengan jari tengahku aku gosok lipatan dagingnya yang sudah becek dengan lendir. Evi jadi Ahhh uhhhh sambil menggelinjang ke kanan dan ke kiri.

Tiba tiba Evi jadi buas, ia mendorong tubuhku dan duduk diatas perutku membelakangi aku. Dengan terburu-buru ia melepaskan ikat pinggang celana yang aku pakai. Aku ngeri takut kalau resleting celanaku makan korban. Dan sebentar saja Evi sukses menurunkan celana yang aku pakai sebatas lutut. Dan bongkahan daging yang sedari tadi sudah membengkak diselangkanganku menyembul keluar. Evi meremasnya kuat-kuat sebelum ia memundukkan pantatnya ke arah mukaku dan “slup” bongkahan dagingku itu sudah masuk dalam mulutnya. Nggak nyangka, Evi yang selama ini aku kira diem eh ternyata,…. Boleh juga permainannya.

 

Aku juga nggak tinggal diam, memiaw Evi yang hampir tanpa bulu itu sudah terpampang didepan mukaku dan aku hisap serta jilati sepuasnya. Lidahku aku julurkan mencoba menerobos ke dalam lobang memiaw Evi. Sejenak ia melepaskan kulumannya dan menengadah sambil merancu “Ehhh lagi mas ehhh terus terus yah yang itu ehhhh” ….

Aku nggak tahan lagi didiemin barangku. Segera aku dorong pantat Evi sehingga ia telungkup lagi dan aku arahkan rudal scottku ke balik pahanya.

“Agak diangkat dikit dong Vi” pintaku supaya Evi agak nungging.

Ia menuruti sambil membuka selangkangannya lebih lebar. Dan aku mulai membenamkan rudalku dalam memiawnya. Ia meringis dan katanya punyaku lebih besar dari pada milik si Rudi. Tapi ketika aku mulai membenamkan lebih dalam lagi Evi melotot dan mengaduh kesakitan. Mungkin karena ia baru pertama kali ini mendapatkan the real penis macam punya aku. Aku diamkan sebentar sambil menenangkan Evi. Kalau gara-gara ini akhirnya di cancel wah rugi dong aku.

Aku mulai pelan pelan menarik dan membenamkannya lagi sampai Evi terbiasa. Nggak seberapa lama kok, lima enam kali memiaw Evi sudah bisa adaptasi dengan punyaku. Meskipun begitu lobang memiaw Evi masih terasa menggenggam batang dagingku erat sekali. Jadi ingat rasanya seperti pertama aku memperawani si Rina dulu. Nggak sampai sepuluh menit Evi sudah kejang melepaskan orgasmenya yang pertama. Ah dasar pemula sih. Aku berhenti sejenak disaat aku sudah sampai pada tujuh puluh lima persen hampir orgasme.

Aku bangkitkan lagi gairahnya dengan meremas kedua puting tetek Evi dari belakang. Berhasil, Evi mulai menggoyangkan lagi pantatnya dan aku nggak buang waktu lagi, aku segera mengayunkan ke depan dan kebelakang mengimbanginya. Evi orgasme sampai empat kali sebelum yang kelimanya aku dan Evi orgasme bareng-bareng. Aku hamburkan semua spermaku dalam memiaw Evi yang berdenyut kuat dan aku tertidur.

Aku bangun sekitar pukul setengah sembilan dengan kemaluan masih menancap dalam memiaw Evi. Aku bangunkan dia dan,… asiknya si Evi jadi minta lagi. Malam itu aku ganti ganti style mulai dari frontal, berdiri, doggy style juga dengan duduk diatas kursi. Aku bermalam di tempat kost itu kali ini bukan di kamar Rina tapi di kamar Evi. Aku jadi nggak kesepian lagi meski Rina ke Bromo sampai empat hari dan empat hari itu aku dan Evi menggunakan kesempatan sebaik-baiknya.

Evi pindah kost setelah dua minggu sejak itu. Tempat kost baru Evi sejenis dengan tempat kost sebelumnya bebas keluar masuk. Aku dapat dua jatah satu dengan Rina satu lagi dengan Evi. Terus terang aku lebih suka main dengan Rina yang lebih prof daripada Evi.

Beberapa hal yang aku suka pada tubuh Evi adalah memiawnya yang nggak terlalu banyak bulu dan teteknya yang begitu ranum, sedang yang aku suka pada Rina adalah teknik main sexnya yang luar biasa. Sorry nggak sempat aku ceritakan disini, mungkin lain kali. Buat Rudi aku minta maaf telah melanggar kebunmu, habis menurut Evi kamu kurang bersungguh-sungguh dan selalu ketakutan dengan kehamilan. Kan ada tekniknya supaya nggak hamil tanpa harus ketakutan hehehehee

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *